14.2.12

Mundur Saat Besar

Di dalam mobil, sekitar 15 tahun lalu, ayah bertanya kepada saya, “menurutmu, apa ‘orang besar itu?” Mungkin sebab saya tipe orang yang jarang banyak bicara dengan ayah, tidak panjang saya menjawab tanyaannya: orang yang mampu mundur di saat ‘besar’.

Beberapa hari belakangan, terusik saya dengan kejadian 15 tahun lampau tersebut. Pertama karena tiba-tiba rasa rindu dengannya menyengat tajam. Kedua, saya merasa jawaban saat itu, bagi saya pribadi menjadi sangat problematik. Jelas tiap orang punya definisi subjektif yang beragam tentang ‘orang besar’. Bahkan sahabat saya, seorang office boy menganggap dirinya ‘orang besar’ karena jika jabatannya disingkat menjadi OB, sama dengan ‘orang besar’.

Tak hanya gagal menemukan definisi ‘orang besar’, konsep ‘mundur’ tak berhasil  saya formulasikan secara teknis. Memang jalan termudah ambil saja jalur fatalistik, meninggalkan keduniawian, kematerialan, lantas melangkah ke jejak-jejak spritualisme. Namun heroisme asketik semacam itu apakah masih relevan dilakukan saat sekarang? “Masih relevan”, kata guru saya, dengan syarat, dengan catatan kaki bahwa keputusan laku asketik diambil dalam kondisi waras. Bukan karena kegagalan meraih kepemilikan material, bukan mekanisme pelarian.

Adakah role model yang pantas untuk diadopsi, diadaptasi, dicontek? Bagi saya pribadi ada. Karena saya tidak tertarik dengan kisah kere menjadi jutawan, from nothing to something, zero to hero, dan sejenisnya, saya mesti mencari model yang sebaliknya: from something to nothing. 25 abad lalu seorang pangeran meninggalkan segala fasilitas berlimpah, yang saya bayangkan untuk kondisi saat ini mungkin setara dengan MacBook Pro 17-inch, PC termutakhir, buku-buku edisi terbaru, dan tentunya home theater, audio set high-end keinginan saya. Untuk apa dia mundur? Tidak mundur menurutnya, karena urusannya adalah kebahagiaan hidup.     

Struktur kesumpekan hidup secara alamiah mengakar kuat dalam semua kondisi, dalam semua yang terkondisi. Dengan menciptakan kondisi yang helpful bagi lunturnya kemelekatan, kebahagiaan menjadi hal yang mungkin. Kebahagiaan hanyalah akibat dari sebab. Ia akibat dari terus-menerus melatih mengenali mana kebutuhan mana keinginan. Patokannya apa? Kebutuhan pasti terbatas, sementara keinginan tak pernah punya batas.    

No comments:

Post a Comment