Di dalam mobil, sekitar 15 tahun
lalu, ayah bertanya kepada saya, “menurutmu, apa ‘orang besar itu?” Mungkin
sebab saya tipe orang yang jarang banyak bicara dengan ayah, tidak panjang saya
menjawab tanyaannya: orang yang mampu mundur di saat ‘besar’.
Beberapa hari belakangan, terusik
saya dengan kejadian 15 tahun lampau tersebut. Pertama karena tiba-tiba rasa
rindu dengannya menyengat tajam. Kedua, saya merasa jawaban saat itu, bagi saya
pribadi menjadi sangat problematik. Jelas tiap orang punya definisi subjektif yang
beragam tentang ‘orang besar’. Bahkan sahabat saya, seorang office boy menganggap dirinya ‘orang
besar’ karena jika jabatannya disingkat menjadi OB, sama dengan ‘orang besar’.
Tak hanya gagal menemukan
definisi ‘orang besar’, konsep ‘mundur’ tak berhasil saya formulasikan secara teknis. Memang jalan termudah
ambil saja jalur fatalistik, meninggalkan keduniawian, kematerialan, lantas
melangkah ke jejak-jejak spritualisme. Namun heroisme asketik semacam itu
apakah masih relevan dilakukan saat sekarang? “Masih relevan”, kata guru saya,
dengan syarat, dengan catatan kaki bahwa keputusan laku asketik diambil dalam
kondisi waras. Bukan karena kegagalan meraih kepemilikan material, bukan
mekanisme pelarian.
Adakah role model yang pantas untuk diadopsi, diadaptasi, dicontek? Bagi
saya pribadi ada. Karena saya tidak tertarik dengan kisah kere menjadi jutawan,
from nothing to something, zero to hero, dan sejenisnya, saya
mesti mencari model yang sebaliknya: from
something to nothing. 25 abad lalu seorang pangeran meninggalkan segala
fasilitas berlimpah, yang saya bayangkan untuk kondisi saat ini mungkin setara
dengan MacBook Pro 17-inch, PC termutakhir, buku-buku edisi terbaru, dan
tentunya home theater, audio set high-end keinginan saya. Untuk apa dia mundur?
Tidak mundur menurutnya, karena urusannya adalah kebahagiaan hidup.
Struktur kesumpekan hidup secara
alamiah mengakar kuat dalam semua kondisi, dalam semua yang terkondisi. Dengan
menciptakan kondisi yang helpful bagi
lunturnya kemelekatan, kebahagiaan menjadi hal yang mungkin. Kebahagiaan
hanyalah akibat dari sebab. Ia akibat dari terus-menerus melatih mengenali mana
kebutuhan mana keinginan. Patokannya apa? Kebutuhan pasti terbatas, sementara
keinginan tak pernah punya batas.
No comments:
Post a Comment