28.9.12

Cordoba Notes

Apalah arti Andalucia tanpa Cordoba. Medio September saat ini, dan kota peradaban tempo dulu itu membawa kita duduk di pojok Juderia, pemukiman Yahudi kuno, tak jauh dari Mezquita, masjid tertua dan terbesar di Eropa. Meski tak lagi berfungsi sebagai tempat muslim berserah diri, setidaknya lima kali sehari, gurat wibawa masih jelas terbaca hanya dengan sebuah kerling mata.

Cuaca panas menghamparkan ruang dan waktu bagi kita untuk mengeluh dan tentu saja berbagi kisah. Semerbak wangi teh Andalucia, teko ketiga, pada akhirnya menuntun kita untuk membuang keluhan, dan mulailah kita saling mendongeng kisah, sebuah cerita tentang kehormatan dan kesetiaan.

Apa yang mampu kita pahami tentang kehormatan dan kesetiaan? Haruskah dua kata itu beriringan? Tak bisakah kehormatan berdiri tegap tanpa kesetiaan? Tak mampukah kesetiaan berteriak lantang tanpa kehormatan? Kuasakah kita merangkulnya?

Jalan terjal dan amat panjang peradaban kemanusiaan menggandeng kesadaran kita bahwa tak cukup bagi manusia untuk hidup dengan hanya satu kadar, sekadar. Kehidupan menjadi sangat murah tanpa nilai. Tanpa kehormatan, nirkesetiaan.

Piring kedua berisi beragam kurma menemani kita mendiskusikan Yubitsume.

Dahulu kala, seorang geisha akan memberikan potongan jarinya yang masih bersimbah darah segar untuk tuannya. Sebuah nilai, persembahan bagi seorang lelaki yang telah membawanya menjadi orang terhormat. Ya, dia datang saat itu setelah ditiduri banyak lelaki. Pada akhirnya, pada seorang lelaki sajalah ia memberikan kehormatan dan kesetiaanya.

Mampukah kita sekarang ini memotong jari kita sendiri demi sebuah kehormatan? Setangkai kesetiaan? Masih adakah sebentuk persembahan tulus seperti itu diberikan dengan bangga kepada kita? Layakkah kita menerima potongan jari berlumuran darah segar dari seseorang? Masihkah ada kehormatan dan kesetiaan tersisa dalam diri kita?

Ah, saya malu. Bahkan dengan diri sendiripun saya tak tulus, tak hormat, apalagi setia. Alarm jam berbunyi, mengingatkan saya untuk segera datang menonton pertunjukan flamenco. Ya, tarian itu menyelamatkan saya dari rasa malu.

Cordoba-Andalucia, Medio September 2012.

No comments:

Post a Comment