Apalah arti Andalucia tanpa Cordoba. Medio September saat ini, dan
kota peradaban tempo dulu itu membawa kita duduk di pojok Juderia,
pemukiman Yahudi kuno, tak jauh dari Mezquita, masjid tertua dan
terbesar di Eropa. Meski tak lagi berfungsi sebagai tempat muslim
berserah diri, setidaknya lima kali sehari, gurat wibawa masih jelas
terbaca hanya dengan sebuah kerling mata.
Cuaca panas menghamparkan ruang dan waktu bagi kita untuk mengeluh
dan tentu saja berbagi kisah. Semerbak wangi teh Andalucia, teko ketiga,
pada akhirnya menuntun kita untuk membuang keluhan, dan mulailah kita
saling mendongeng kisah, sebuah cerita tentang kehormatan dan kesetiaan.
Apa yang mampu kita pahami tentang kehormatan dan kesetiaan? Haruskah
dua kata itu beriringan? Tak bisakah kehormatan berdiri tegap tanpa
kesetiaan? Tak mampukah kesetiaan berteriak lantang tanpa kehormatan?
Kuasakah kita merangkulnya?
Jalan terjal dan amat panjang peradaban kemanusiaan menggandeng
kesadaran kita bahwa tak cukup bagi manusia untuk hidup dengan hanya
satu kadar, sekadar. Kehidupan menjadi sangat murah tanpa nilai. Tanpa
kehormatan, nirkesetiaan.
Piring kedua berisi beragam kurma menemani kita mendiskusikan Yubitsume.
Dahulu kala, seorang geisha akan memberikan potongan jarinya yang
masih bersimbah darah segar untuk tuannya. Sebuah nilai, persembahan
bagi seorang lelaki yang telah membawanya menjadi orang terhormat. Ya,
dia datang saat itu setelah ditiduri banyak lelaki. Pada akhirnya, pada
seorang lelaki sajalah ia memberikan kehormatan dan kesetiaanya.
Mampukah kita sekarang ini memotong jari kita sendiri demi sebuah
kehormatan? Setangkai kesetiaan? Masih adakah sebentuk persembahan tulus
seperti itu diberikan dengan bangga kepada kita? Layakkah kita menerima
potongan jari berlumuran darah segar dari seseorang? Masihkah ada
kehormatan dan kesetiaan tersisa dalam diri kita?
Ah, saya malu. Bahkan dengan diri sendiripun saya tak tulus, tak
hormat, apalagi setia. Alarm jam berbunyi, mengingatkan saya untuk
segera datang menonton pertunjukan flamenco. Ya, tarian itu
menyelamatkan saya dari rasa malu.
Cordoba-Andalucia, Medio September 2012.
No comments:
Post a Comment