Perahu
Angin
dari utara bertiup pesat. Pagi ini ia enggan bersenandung hingga membuat hawa
dingin mampu mengiris kulit jauh lebih mudah ketimbang hari-hari sebelumnya. Semoga
mentari tak hendak menari kali ini. Jangan iris kulitku lebih dalam, harapku.
Berjalan
kita menuju stasiun. Dekat, meski terasa seperti mendaki tebing setinggi puluhan
kilometer. Tak ada suara diantara kita. Hanya suara sol sepatu menggilas salju.
Entah,
terasa berat kali ini aku melangkahkan kaki diantara bekas salju yang turun
sepanjang malam. Entah, aku mendadak tak nyaman dengan suara itu, meski
biasanya aku akan berlari dari kamar hanya untuk menginjak-injak salju. Iya,
aku begitu senang dengan suaranya.
Tak
banyak berubah posisi jarum jam sejak kita keluar dari rumah. Ah, berarti kita
masih lama sampai tujuan. Dalam keheningan itu, tiba-tiba dia berkata lirih:
“seandainya”.
Terkejut
aku karena suara itu terasa sangat keras di telingaku. Kuputuskan untuk diam,
dan tak bertanya. Paling karena kedinginan, hingga dia berkata “seandainya”. Sekadar
berandai-andai jika saat ini hangat. untuk apa aku bertanya.
Kereta
sudah menunggu. Di depan pintu kereta aku hentikan langkah, menatap mukanya
yang tak banyak tersisa karena tertutup topi dan syal yang membalut separuh
mukanya untuk menepis rasa dingin. “Pantasnya memang kau naik perahu, bukan
kereta api seperti ini”, guraunya. Entah, aku tak bisa tersenyum. “Sudah ya,
hati-hati. Jangan pernah takut dingin, karena panas juga menakutkan. Kita akan
bertemu lagi ketika musim panas sedang bernyanyi riang. Iya, kita akan terlahir
kembali di saat itu dan nyaris beriringan.” Katanya. Dia melangkah pergi.
Sungguh tegar untuk momentum menghantar kepergian seseorang.
Perahu.
Aku tak duduk sendiri ternyata. Sepanjang jalan aku ditemani kata perahu yang masih
menggema kuat. Aku ingat, musim gugur tahun lalu dia berkata, “aku ingin
menyeberangi sungai itu bersamamu dengan perahu. Perahu yang aku buat sendiri,
untukmu. Dan akan kuhanyutkan perahu itu bersama sungai, agar aku selalu bisa
membuatkan lagi perahu baru untukmu, tanpa kau harus menjaganya.”
***
Musim telah berganti ribuan kali setelah kematian itu.
Sampai pada suatu masa, saat aku duduk dalam diam, dia kembali menyapaku lirih
dengan tatapan matanya, “aku sudah buatkan perahu untukmu, untuk kita bersama menyeberangi
sungai.”
*Jejak
perjalanan bersama ketulusan. Gron, C’Mai, K’Bhuri, K’Thep, Batavia.
No comments:
Post a Comment